Header Ads

Gambar1

PANTJA SILA, CITA-CITA DAN REALITA

Baca Juga

Pena Kampus, UMK - Dalam rangka memperingati hari lahirnya Pancasila 1 Juni 2017 baru-baru ini di Auditorium Universitas Muria Kudus diadakan pemutaran film yang berjudul “Pantja Sila Cita-cita & Realita”. Film ini ditulis, diproduksi dan disutradarai oleh Tino Saroenggalo dan Tyo Pakusadewo. Acara pemutaran film ini diselenggarakan oleh Djarum Foundation bakti pendidikan bersama BEM universitas. Tidak hanya di UMK, film ini juga diputar secara serentak pada 7 perguruan tinggi yang ada di Indonesia diantaranya di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus (STAIN Kudus), Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Negeri Semarang (UNNES), UPN Veteran Yogyakarta, dan Universitas Jenderal Sudirman.


Film “Pantja Sila Cita-cita & Realita” ini merupakan ide dari Tyo Pakusadewo yang dalam film ini berperan sebagai Soekarno sekaligus menjadi produser film. Film ini berisi tentang pembunyian Pidato Lahirnya  Pancasila sebagaimana dibacakan oleh Ir. Soekarno  pada hari ketiga rapat Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (A Historical Monologue Film). Film ini dipersembahkan untuk para pecinta dan pelindung Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, sebagaimana dicetuskan untuk pertama kali oleh Ir. Soekarno di hadapan Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPU-PK) pada tanggal 1 Juni 1945; juga kepada generasi penerus yang kebetulan belum pernah mengenal sejarah Pancasila.  Pemeran-pemeran dalam film ini yaitu Tyo Pakusadewo yang berperan sebagai Ir. Soekarno, Jantra Suryaman yang berperan sebagai Ki Bagoes Hadikoesoema, Wicaksosno Wisnu Legowo sebagai R. Abikoesno Tjokrosoejoso, Teuku Rifnu Wikana sebagai M. Yamin, Verdi Soleiman sebagai Liem Koen Hian.
Pemutaran film berlangsung selama 78 menit mulai pukul 10.00 WIB, selama pemutaran film para penonton dilarang untuk merekam untuk menghargai hak cipta film.
“...Pendek kata, bangsa Indonesia, Natie Indonesia, bukanlah sekedar satu golongan orang yang hidup dengan le desir d’etre ensemble di atas daerah kecil seperti Minangkabau, atau Madura, atau Yogya, atau Sunda, atau Bugis, tetapi bangsa In donesia ialah seluruh manusia-manusia yang, menurut geopolitik yang telah ditentukan oleh Allah S.W.T., tinggal di kesatuannya semua pulau-pulau Indonesia dari ujung Utara Sumatra sampai ke Irian, seluruhnya, karena antara manusia 70 milyun ini sudah ada le desir d’etre enemble, sudah terjadi Charaktergemeinschaft! Natie Indonesia, bangsa Indonesia, umat Indonesia jumlah orangnya adalah 70 milyun, tetapi 70 milyun yang telah menjadi satu, satu, sekali lagi satu!”.
 “Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Tetapi kita mendiriken negara ‘semua buat semua’, satu buat semua, semua buat satu. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namaken Panca Sila. Sila artinya azas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan Abadi. Di dalam Indonesia yang merdeka itu perjoangan kita harus berjalan terus, hanya lain sifatnya dengan perjoangan sekarang, lain coraknya. Nanti kita bersama-sama, sebagai bangsa yang bersatu padu, berjoang terus menyelenggarakan apa yang kita cita-citakan di dalam Panca Sila”  begitulah sedikit cuplikan isi pidato Ir. Soekarno yang diperankan oleh Tyo Pakusadewo dalam film Pantja Sila Cita-cita & Realita.
Setelah acara pemutaran film selesai dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab dengan menghadirkan Emil Heradi (seorang sutradara namun dalam film ini sebagai asisten sutradara) dan Gunawan (pengamat film) dari Jakarta sebagai bintang tamu dalam diskusi tersebut. Dalam acara tanya jawab, ada 7 peserta yang diberi kesempatan untuk bertanya kepada Emil dan Gunawan selaku bintang tamu. Setiap peserta yang bertanya akan diberikan sebuah buku yang berjudul “Pantja Sila Cita-cita & Realita” yang merupakan isi dari film Pantja Sila Cita-cita & Realita. Ketika Gunawan ditanya tentang harapannya untuk generasi sekarang ia hanya berpesan agar masyarakat bisa bergotong royong. “harapanku masyarakat sekarang itu bisa gotong royong, gotong royong itu bukan bersama-sama membersihkan got ya tetapi bekerjasama mengharagai keberagaman” tutur Gunawan.
Ayu, selaku salah satu panitia Nobar (Nonton Bareng) berharap agar paling tidak generasi muda sekarang ini mengerti lebih jauh makna Pancasila itu apa.. dan lebih dari itu sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa, kita dapat merealisasikan cita-cita pendahulu kita  dari dulu sampai sekarang.
Tanggapan dalam terselenggaranya acara nobar pemutaran film ini sangat positif, ada salah satu peserta yang mengaku lebih faham tentang sidang BPUPKI, “Dengan adanya film ini, pemahamanku akan sidang BPUPKI makin terbuka. Karena selama ini, penjelasan tentang BPUPKI hanya berupa tulisan saja, yang terkadang sulit dipahami. Nah setelah aku lihat film ini, aku agak paham dengan proses BPUPKI yang terjadi dulu. Dan menambah rasa ingin tahuku tentang Nasionalisme”, ungkap Farida salah satu mahasiswa PGSD UMK. (Rifa Nur Sa’idah/Peka Online)
Powered by Blogger.