Asa Jatmiko : Teori hanya akan membuat kita tidak nyaman

Baca Juga

Pena Kampus - Begitulah ungkapan seorang sastrawan Asa Jatmiko saat mengisi acara merawat sastra lereng muria. Acara tersebut merupakan sebuah upaya yang bertujuan untuk menghidupkan kembali kecintaan pemuda di kawasan lereng muria terhadap sastra, khususnya puisi yang mulai meredup.
Foto : Luqman / PEKA

Acara ini yang dilaksanakan di Ruang Seminar, Gedung Rektorat lantai 4 Universitas Muria Kudus (28/11), turut menghadirkan beberapa narasumber dengan latar belakang sastrawan lereng muria yang meliputi daerah Kudus, Pati,dan Jepara. Selain Asa Jatmiko, ada pula Asyari Muhammad, Arif Khilwa, dan Aloeth Pathi. 

Asyari mengungkapkan ada 3 cara dalam membacakan puisi. Pertama dengan cara apresiatif, yaitu pembacaan puisi denga cara memahami secara penuh teks yang akan dibacakan. Kedua dengan cara konvensional/ standar, yaitu membacakan puisi dengan mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam teori-teori pembacaan puisi. Ketiga dengan cara kreatif, dimana cara pembacaan puisi model ini di lakukan secara bebas, memiliki imajinasi yang liar dan tergantung dengan karakter masing-masing pembaca. Biasanya pembacaan puisi dengan cara kreatif diselingi dengan alunan musik atau riasan make up yang nyeleneh dari si pembaca.

Selain itu Arif juga menambahkan “Dengan menulis maka keberadaan anda akan diakui”. Hal tersebut dia utarakan karena di masa remajanya dahulu ia sempat menjadi korban bullying di lingkungannya. Maka, lewat tulisan itulah seorang Arif dapat menutupi segala kekurannya dan akhirnya diakui oleh banyak orang bahwa dia lebih baik dari anggapan sebagian orang yang merendahkannya.

Sebuah tulisan yang dibuat hendaklah dipubikasikan. Karena apabila tidak demikian, tulisan itu hanya akan menjadi milik penulisnya itu sendiri. Dengan mempublikasikan sebuah tulisan banyak manfaat yang akan didapat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Para sastrawan mengajak kalangan muda untuk dapat terus berkarya. Mereka mengakui bahwa sebenarnya sastra bukanlah lingkup yang mereka bidangi. Namun dengan usaha dan ketekunan yang mereka asah di sela-sela waktu bekerja, terciptalah karya-karya yang dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang. Para sastrawan sangat berharap kepada potensi yang dimiki oleh pemuda sekarang ini, dimana pengalaman dan pengetahuan mereka yang masih dapat diasah sedimikian rupa agar dikemudian hari nanti dapat tercipta sebuah mahakarya.


Dalam acara diskusi tersebut diselingi pula dengan pembacaan pusi, baik puisi karya pembacanya sendiri maupun dari sastrawan kenamaan. Puisi yang dibacakan oleh para sastrawan, dosen dan beberapa mahasiswa dari prodi PBSI membuat semua orang yang hadir dalam ruangan tersebut larut dalam suasana. (Luqman/Dewi/Peka)
Powered by Blogger.