Teater Keset; Menantang Keaktoran Budaya Bali

Baca Juga

Pena Kampus- Pementasan Teater Keset (Keluarga Segitiga Teater) dengan lakon “Bila Malam Bertambah Malam” Karya Putu wijaya memperoleh apresiasi yang memuaskan dari penonton. Pasalnya, lakon tersebut bukan asli budaya Kudus, melainkan budaya Bali. Kendati demikian, pementasan tersebut benar-benar disetting seperti budaya aslinya, mulai dari aroma kemenyan, musik gamelan Bali, hingga properti Pura Bali.
Pementasan teater Keset dengan lakon Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Widaja di Auditorium UMK. Sabtu, (18/11). Foto : Sabik / PEKA

“Pementasannya bagus, terus propertinya keren banget, penonokohan juga menjiwai banget. Dari segi pembicaraan sudah seperti orang Bali beneran. Tokoh yang saya suka adalah Nyoman dan Wayan, menjiwai banget deh,” tutur Saiful, salah satu penonton saat ditemui Redaksi Pena Kampus di Auditorium UMK. Sabtu, (18/11).

Pipiek Isfianti, pemeran Gusti Biang dalam pementasan tersebut, menemui beberapa kendala. Diusianya yang sudah tidak muda lagi Pipiek kesulitan dalam mengingat teks yang notabene bukan dari daerahnya, Kudus. Pipiek juga berusaha untuk menjaga power suaranya agar tetap terjaga selama pementasan berlangsung.

“Aslinya saya minta diperankan oleh dua orang, jadi bisa gantian. Diusia saya yang uzur ini susah untuk menghafal naskah. Bagi saya terasa sangat berat dari hafalan. Saya belajarnya itu browsing, terus diskusi sama lawan main. Jadi selama pementasan ini saya puasa bicara, untuk menjaga power suara,” kata Pipiek. Setelah dua kali pentas di Kudus, Keset juga akan tampil di Pekalongan, “Rencananya nanti Keset juga tampil di Pekalongan,” imbuh Pipiek.

Sebagai sutradara sekaligus pemeran Nyoman, Jesi Segitiga menuturkan, “Dalam pementasan teater yang berlatar di Bali ini ada beberapa tantangan. Karena pemain aslinya adalah orang Jawa, jadi mau tidak mau harus belajar budaya Bali yang berbeda budanya dengan budaya Jawa,” terang Jesi.

“Naskah ini menurut saya sangat luar biasa. Karena Keset mencoba menantang keaktoran dari biasanya yang mementasakan naskah yang bisa dilucukan. Kesulitannya adalah pada saat mendialogkan, karena dialog orang Jawa berbeda dengan orang Bali, kalau kita analisis proses bahasa yang muncul disitu dialog orang Jawa agak membuka mulut sedangkan kalau orang Bali terkesan agak didengung-dengungkan jadi vokalnya kurang nyampai, jika memakai mikrofon suaranya malah tidak enak, jadi kita benar-benar tertantang disitu,” ujar Jesi.

“Yang paling sulit adalah membiasakan budaya orang lain, mulai cara berdoanya hingga mengucapkan jargon-jargonnya. Karena bertolak dari kehidupan kita, budaya Jawa. Mau tidak mau kita belajar budaya Bali,” pungkasnya. (Mathoril/Sabik/Ulya/Pena Kampus)
Powered by Blogger.