Warung Kopi Estu Rayakan Hari Guru Lewat Ngopi (Ngobrol Penuh Inspirasi)

Baca Juga

Pena Kampus - Pada akhir pekan kemarin (25/11) tepat pada peringatan hari guru, telah diselenggarakannya acara diskusi oleh Kopi Estu. Acara yang berlangsung dari pukul 10.00-12.30 WIB ini yang mengangkat tema "Guru Menulis = Guru Jaman Now". Pada kesempatan kali ini juga, diisi oleh dua narasumber jurnalis senior yaitu Rosidi (Humas UMK & Pemred Suaranahdliyin.com) dan Supri Redaktur (Koran Muria).
Foto : doc. PEKA

Mutohar (35), selaku pemilik Kopi Estu memaparkan ide awal diselenggarakannya acara ini yaitu dengan menengok tingkat masyarakat yang memprihatinkan, terutama calon guru yang memiliki peran aktif di dunia pendidikan. Seorang guru zaman sekarang harus bisa menulis bukan hanya sebagai pelajaran bagi siswanya, namun sebagai bukti bahwa ia mampu berkarya. Hal ini juga akan memotivasi para murid tentunya. Oleh karena itu, acara semacam diskusi ini perlu diselenggarakan. Agar acara diskusi lebih terkesan santai dan nyaman, maka diskusi sambil ngopi dijadikan pilihan.

"Ngopi kali ini dijadikan salah satu wahana dan belajar karena dibalik orang ngobrol banyak hal dan inspirasi yang bisa didapatkan," jelas lelaki yang berprofesi sebagai dosen Pendidikan Bahasa Inggris di UMK tersebut. Selain untuk belajar, ngopi juga bisa menjadi sarana mengkampanyekan local wisdom terutama kopi Muria yang kini hampir tertelan oleh kopi modern seperti Starbuck. Rencananya, ia juga ingin menambahkan perpustakaan kecil, sehingga warungnya tidak hanya sekedar dijadikan tempat nongkrong. "Hari ini untuk bergaul kita harus baca. Kalau kita mau berkembang, kalau kita mau eksis harus membaca," tambahnya. Ia juga memaparkan tingkat literasi yang diteliti oleh PISA (Program for International Student Assessment), Negara Indonesia termasuk peringkat ke 66 dari 67 Negara. Itulah yang membuat ia ingin mendorong acara ini dilaksanakan dan juga kado special untuk guru maupun calon guru.

Acara ini direncanakan akan terus dilestarikan dan dijadwalkan sesuai momentum yang ada, misalnya hari pahlawan. Dengan suguhan secangkir kopi dan pisang rebus gratis, para peserta nampak bersemangat untuk saling berdiskusi.
Foto : doc. PEKA
 Dalam acara tersebut, tidak hanya dihadiri oleh kalangan mahasiswa saja, namun juga dari masyarakat umum dan guru. Salah satunya adalah Muhammad Jamaluddin (27), salah satu staf guru MTS NU TBS yang rela meluangkan waktunya untuk menghadiri acara tersebut. Jamal menuturkan bahwa ngopi ini adalah momen yang tepat dan bisa membangkitkan kita untuk giat membaca dan menulis karena dia rasa guru zaman now tanggung jawabnya semakin besar. Mereka tidak hanya dituntut untuk mengajar, namun juga mendidik karakter siswa yang semakin mengalami degradasi moral.Semakin banyak forum diskusi seperti ini, banyak mahasiswa atau calon guru untuk membaca dan menulis,” ungkap salah satu alumni UMK tersebut. Ia berharap seorang guru tidak hanya fokus pada mengajar saja, namun juga menyempatkan diri untuk menulis disela kesibukannya. “Misalnya saja mereka dapat menulis tentang info pendidikan atau metode belajar yang baru, hal ini bisa memotivasi siswa untuk belajar karena sudah ada bukti” tambahnya.

Perkembangan teknologi di era saat ini begitu pesat, menuntut masyarakat untuk up-to-date. Utamanya jika guru ingin menulis maka tulislah sesuatu yang positif sehingga lebih cepat diakses dan jika dibaca bisa memberi suatu kemanfaatan bagi pembaca. Apa yang ditulis berasal dari apa yang dibaca. Membaca tidak harus membaca tulisan, tapi juga bisa membaca situasi atau bahkan pengalaman untuk bisa dijadikan tulisan. (Amrita/Mifthania/Del/Peka)
Powered by Blogger.