Belajar di 'Kandang' Universitas

Baca Juga


Setelah menyelesaikan pendidikan di tingkat menengah atau sederajat seorang Pelajar akan memilih untuk bekerja atau meneruskan pendidikan pada tingkat yang lebih tinggi. Jika memilih untuk meneruskan pada jenjang Pendidikan Tinggi, ada pilihan Akademi, Institut, Politeknik, Sekolah Tinggi dan Universitas. Bergantung kepada keinginan masing-masing individu. Tak dapat dipungkiri, kadang, mereka bergantung pada keinginan orang tua atau teman sebayanya. Ini yang membuat mahasiswa menjadi generasi ling-lung yang tak tahu bahwa ia menjadi ‘Kebo’ yang sedang digembala agar gemuk dagingnya.
Foto : doc. pribadi

            Kenapa Pemerintah membedakan Pendidikan Tinggi dengan nama-nama yang telah disebutkan di atas? karena setiap nama memiliki pengertian serta tujuan yang berbeda-beda.

            Sebagai contoh, Akademi adalah suatu Institusi Pendidikan Tinggi, penelitian atau kelompok kehormatan. Akademi menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu cabang atau sebagian ilmu pengetahuan, teknologi, dan atau seni. Tujuan dari akademi adalah memberikan pendidikan dan pengajaran tinggi tentang keahlian khusus.

            Sedangkan kata Universitas berasal dari bahasa latin Universitas Magistrotum et Scholarium yang berarti komunitas guru dan akademisi (unila.ac.id). Dimana akademisi adalah seseorang yang identik dengan budaya kajian ilmiah. Komunitas ini bersinergi untuk mewujudkan nilai-nilai yang menyeluruh sesuai dengan dasar kata Universitas yakni Universal.

            Nilai-nilai yang menyeluruh ini dapat diwujudkan melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni, pendidikan, penelitian, serta pengabdian bersama oleh civitas akademika yang melibatkan multi disiplin ilmu terhadap fakultas yang dimiliki. Bukan malah membatasi mahasiswa dengan kesibukan tertentu dengan scope yang lebih kecil, yang coba diarahkan pada orientasi pasar untuk menjadi seorang ‘pekerja intelektual’.

            Hal di atas tercipta karena hubungan industrial antara Dosen, Mahasiswa dan Universitas. Ketiga subjek pendidikan tersebut mencoba membuat sebuah sistem yang ‘mengkerdilkan’ mahasiswanya untuk memiliki kompetensi tertentu sesuai dengan tuntutan pasar, bukan passion of learning. Padahal, seharusnya proses pendidikan menitikberatkan pada pengembangan ilmu pengetahuan serta pengaplikasian IPTEKS bagi kemajuan kesejahteraan masyarakat.

Pemahaman yang Salah
            Jangan kira ini ‘pabrik’ untuk menciptakan manusia yang hanya untuk memenuhi kebutuhan perusahaan-perusahaan sebagai pekerja. Menjadikan manusia seperti ‘robot’ yang ditanami ilmu pengetahuan dan setelah itu untuk mengerjakan suatu pekerjaan tertentu sesuai dengan kualifikasinya masing-masing.

            Pembodohan seperti ini telah lama berlaku. Kesalahan pemikiran dan cara pandang beberapa orang yang mendudukkan Mahasiswa sebagai orang pembelajar dan Dosen sebagai Pengajar adalah salah. Menurut Paulo Freire, Seorang Revolusioner Pendidikan dari Sao Paulo, Brazil, Ia mengatakan bahwa ada ‘Gaya Bank’, yakni sebuah antagonisme pendidikan yang masih sering terjadi dalam wajah pendidikan kita. Setidaknya ada 10 paradigma ‘salah’ yang disampaikan oleh Freire :

  1. Guru mengajar, murid belajar
  2. Guru tahu segalanya, murid tidak tahu apa-apa
  3. Guru berpikir, murid dipikirkan
  4. Guru bicara, murid mendengarkan
  5. Guru mengatur, murid diatur
  6. Guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menuruti
  7. Guru bertindak, murid membayangkan bagaimana bertindak sesuai dengan tindakan gurunya
  8. Guru memilih apa yang diajarkan, murid menyesuaikan diri
  9. Guru mengacaukan wewenang ilmu pengetahuan dengan wewenang profesionalismenya, dan mempertentangkannya dengan kebebasan murid-murid
  10. Dan Guru adalah subyek proses belajar, murid obyeknya.
Jika dewasa ini proses Pendidikan yang ada di Indonesia masih menggunakan cara pandang yang demikian, maka tak ubahnya seorang pembelajar di dalam kelas ini ‘disamakan’ dengan Kebo di kandang. Kebo yang bisa di apa-apakan pemiliknya, bahkan Kebo yang bisa di sembelih untuk dikorbankan suatu saat nanti apabila tiba masanya.

Mahasiswa yang duduk diam di dalam kelas lalu mendengarkan Dosennya bercerita ngalor-ngidul yang kadang tak tahu kemana tujuan dari ceritanya itu. Ia adalah ‘Kebo’. Kebo yang benar-benar tersesat.

Kembali pada Khitah
            Ada suatu pepatah yang mengatakan bahwa tidak ada yang sia-sia, tidak ada yang terlambat, dan keterlambatan itu lebih baik dari pada tidak ada perbaikan sama sekali.

            Dalam dunia pendidikan Internasioal, kita mengenal sebuah organisasi bernama (UNESCO) United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization. UNESCO memiliki 4 pilar tujuan utama pendidikan yang ingin dicapai. Ke-empat pilar tersebut bermuara pada satu tujuan. Agar manusia menjadi seutuhnya manusia yang dapat hidup berdampingan dengan makhluk lain dengan cara-cara yang santun, bijak dan berkembang. Seorang khalifah.

Pertama adalah Learning to Know, sebuah kata yang singkat namun sulit untuk diartikan. Namun, Charlotte Geerdink mengartikan bahwa ini adalah sebuah kemampuan untuk belajar dengan baik. Bagaimana seseorang menjadi seorang pembelajar yang baik, dengan cara belajar yang benar dapat mengembangkan satu konsentrasi seseorang, kemampuan memori serta kemampuan berpikir. Dengan mejuwudkan manusia menjadi seorang pembelajar yang baik maka tidak perlu lagi ada istilah Kebo dalam kandang, karena dalam konsep tujuan ini manusia dibentuk menjadi seorang pembelajar sepanjang hayat.

            Tujuan kedua dari pendidikan adalah ‘Learning to do’. Kesempatan membuat manusia yang kreatif dan cakap dalam mengaplikasikan pengetahuannya untuk menjawab masalah sesuai dengan tantangan zaman yang ke depan akan selalu mengalami perubahan serta menjadikan seseorang untuk berani mengambil resiko atas pilihan yang telah dilakukan.

            Tidak ada yang tidak mungkin untuk mencapai tujuan dari pendidikan itu sendiri. Termasuk tujuan untuk mewujudkan sebuah pendidikan yang memiliki kontribusi dalam perbaikan diberbagai aspek. Terutama memberikan ruang untuk kebebasan berpikir, perasaan dan imajinasi agar seseorang tersebut berani bertindak secara mandiri, memiliki wawasan dan daya kritis serta lebih bertanggung jawab. Karena akhir dari sebuah pendidikan ialah membukakan pintu bagi seorang pembelajar untuk menemukan harta karunnya sendiri.

            Apabila semua proses belajar yang terjadi sudah mengacu pada ke-tiga konsep di atas, maka seharusnya manusia dapat hidup berdampingan secara damai dengan orang-orang yang ada disekitarnya. Termasuk dengan ayam, babi, rusa, harimau dan bunga anggrek yang tumbuh subur pada musimnya. Tidak ada lagi perang, saling mengutuk, atau kekacauan yang disebabkan oleh keegoisan manusia satu terhadap manusia lainya.

            Pendidikan yang sejati mungkin akan seperti apa yang dibayangkan oleh John Lennon, musisi dunia dalam lagunya Imagine. Sedikit penggalan lirik yang menjadi mimpi seorang John kepada dunia :


Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace
Yoo hoo ooh

Imagine all the people
Sharing all the world
Yoo hoo ooh

You may say I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will be as one

Kerjasama Lintas Ilmu
            Khitah Pendidikan Universitas adalah mewujudkan pendidikan yang universal berdasarkan multidisiplin ilmu yang ada pada fakultas. Istilah Uni (dari Unity) dengan jelas menggambarkan pengakuan manusia terhadap kesatuan antar berbagai elemen ilmu yang saling berkaitan. Untuk mewujudkan hal ini maka, sebagai pihak yang bertanggungjawab (baca : Universitas) seharusnya lebih menekankan proses pendidikan, penelitian dan pengabdian yang bersifat lintas kajian ilmu.

            Santa Fe Institute (SFI) adalah salah satu Perguruan Tinggi yang telah berhasil menerapkan konsep multidisiplin ilmu dalam proses pembelajarannya. Ini terlihat dari publikasi ilmiah yang telah terbit di jurnal Internasional yang cukup bergengsi.

Aktif di Kudus Smart City OpenLabs
Pemerhati Pendidikan

Powered by Blogger.