Duta Pilkada Kudus, Pelopor Demokrasi Kudus

Baca Juga

Pena Kampus- Pemilihan Duta Pilkada Kudus 2018 telah memasuki tahap akhir. Sebelumnya, berbagai tahapan telah dilalui, mulai dari tahap seleksi administrasi, tes tertulis dan tes wawancara, hingga keluarlah 10 finalis untuk mengikuti Grand Final. 10 finalis terbaik yang terdiri dari 5 putra dan 5 putri telah dinyatakan lolos pada tahap sebelumnya kembali bersaing di Grand Final, Sabtu (16/12).

Foto oleh: Sabik

Acara ini merupakan kerjasama antara Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kudus, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muria Kudus (BEM UMK), dan Himpunan Mahasiswa Program Studi Sistem Informasi (Himapro SI) UMK bertempat di Gedung Auditorium UMK. Adapun tujuannya yakni guna mencari pemuda dan pemudi sebagai kader penggerak demokrasi, khususnya di kota Kudus.

“Tujuan diadakan pemilihan Duta Pilkada ini salah satunya untuk mengajak khususnya dari peserta yang terpilih untuk mensosialisasikan bahwa pilkada itu penting, dalam arti warga negara itu harus menggunakan hak pilihnya dan tentunya hak pilih itu tidak terdorong dari sesuatu yang ada unsur money politik,” kata Hendra selaku ketua panitia saat ditemui pihak redaksi.

Pada tahap ini di hadapan para juri serta tamu undangan, para finalis diberi waktu 5 menit untuk menjawab pertanyaan berdasarkan  undian yang mereka ambil. Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan pengetahuan tentang Pemilu. Selain menjawab pertanyaan, mereka juga diminta memaparkan program kerja apa yang akan dijalankan jika terpilih menjadi Duta Pilkada.

Di akhir acara, diumumkannya 2 pemenang Duta Pilkada Kudus 2018. Berdasarkan keputusan juri diperolehlah dua nama yang terpilih yaitu, Muhammad Riski Akbar (siswa kelas XI SMA N 1 Bae Kudus) dan Arofatul Ulya (mahasiswi Progdi Pendidikan Bahasa Inggris UMK).

“Menjadi Duta Pilkada yang pertama kali untuk saya juga yang pertama di Kudus itu menjadi momentum untuk saya tersendiri. Lebih dari itu, sudah dipilih menjadi duta pilkada jadi harus bisa benar-benar membuktikan aksinya untuk meminimalisir praktik money politic dan golput di lingkungan masyarakat Kudus,” terang Arofatul Ulya.

“Semoga dengan diselenggarakannya acara ini masyarakat lebih sadar, sadar akan nuraninya sendiri dalam memilih pemimpin, sadar akan betapa pentingnya demokrasi, jangan jadi orang awam, harus punya pendirian, toleransi dalam berdemokrasi, tidak terpengaruh dengan hal-hal yang bersifat sogokan atau money politic dan tentunya no golput,” harap Hendra.(Sabik/Mathoril/Dewi/Peka Online)
Powered by Blogger.