Kapan Korupsi (bisa) berhenti?

Baca Juga

Setiap hari saat kita menonton berita Televisi di negeri ini, paling banyak apakah kasus yang sering terjadi? Pencurian? Pembunuhan? atau Korupsi?. Ya, tentu saja pilihan terakhir-lah yang mungkin paling banyak dipilih. Selalu ada saja nama-nama yang silih berganti menyandang jabatan ‘koruptor’. Mulai dari pengemis pungli, para pejabat, politisi sampai mereka yang ada di deretan pemerintahan. Kasusnya bukan main bervariasi. Ada yang dipenjara malah jalan-jalan keluar negeri, ada pula yang menyulap penjara menjadi hotel, sampai yang akhir-akhir ini viral terjadi : Koruptor bersama sang tiang listrik. Semua itu adalah kisah-kisah korupsi unik yang perlu kita perhatikan.
Ilustrasi oleh BX

Korupsi atau rasuah (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok) adalah tindakan pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, serta pihak lain yang terlibat dalam tindakan itu yang secara tidak wajar dan tidak legal menyalahgunakan kekuasaan. Menurut Tranparansi Internasional, sebuah organisasi antikorupsi Internasional yang berpusat di Berlin Jerman, Indonesia termasuk Negara dengan Indeks Persepsi Korupsi ke 90 dari 176 Negara di Dunia. Hal ini sungguh harus menjadi perhatian kita bersama karena angka tersebut menunjukkan bahwa Negara yang sudah merdeka selama 72 tahun ini masih jauh dari ‘kebersihan moral’ para penguasa. Lalu dengan memperingati hari Anti Korupsi pada tanggal 9 Desember ini, apa pencegahan yang dapat kita lakukan?

Menurut saya, sebelum lebih jauh membahas tentang pencegahan korupsi, sejak dini kita harus menanamkan sifat kejujuran di lingkungan kita. Masalah yang paling banyak terjadi ialah pencontekan di dunia pendidikan. Siswa yang sering dan membiasakan dirinya untuk mencontek bisa saya sebut sebagai calon koruptor, karena mereka belajar untuk mengambil hak milik orang lain. Kebiasaan buruk ini, bisa menjadi sebuah ‘budaya’ yang tak pantas untuk dibudayakan. Maka dari itu, sudah saatnya para pendidik memberikan perhatian khusus akan hal ‘mencontek’ sebagai bentuk pengembangan karakte pada anak.

Kembali berbicara mengenai korupsi, kapankah dan bisakah korupsi bisa berhenti? Siapa yang dapat menjawab pertanyaan ini, kecuali mereka para generasi yang menginginkan Indonesia lebih maju. Coba sejenak kita tengok Negara paling bersih dari korupsi di dunia, yakni Denmark. Casper Kylnge selaku Duta Besar Denmark di Indonesia mengungkapkan Negara tersebut membuat semangat anti korupsi menjadi hal yang anti mainstream. Artinya, Negara yang selalu mendapat nilai diatas 90 dari Transparency International itu, menerapkan zero tolerance (toleransi nol) terhadap korupsi di berbagai lembaga pemerintah. Perwujudannya adalah dengan menempatkan lembaga serupa KPK untuk mengawasi para pelaku pemerintahan disetiap elemen yang ada. Jadi, pemantauan yang dilakukan sangatlah ketat.

Lalu bagaimana dengan pencegahan korupsi di Indonesia? Apakah para koruptor sudah jera? Banyak pro kontra yang terjadi bahwa hukuman koruptor di Indonesia masih sangat ringan. Bila lebih dicermati, masih sulit memberantas korupsi di Indonesia, pasalnya setiap satu atasan yang korupsi, maka semua bawahan akan ikut terlibat. Cara memberantas korupsi tidak semudah dengan membalikan telapak tangan. Harus ada tindakan perubahan yang membutuhkan banyak waktu. Diantaranya yaitu penyuluhan kepada generasi-generasi muda dengan menanamkan jiwa kejujuran dan tanggung jawab yang didasari   iman yang kuat agar mereka tidak menjadi koruptor masa depan. (Amrita)
Powered by Blogger.