Memang Benar Adanya : Catatan Mantan Wartawan

Baca Juga

Sedikit memberikan catatan untuk kawan yang mendapat counter keras dalam opini yang dia buat, Melacurkan Jurnalisme di Purwodadi. Melihat esay nya, saya juga tergerak ingin sharing sedikit tentang kondisi saat menjalani profesi sebagai wartawan dulu. Benar, saya tidak lagi menjadi seorang wartawan. Pekerjaan itu telah saya tinggalkan 14 bulan yang lalu.
Gambar : google.com

Pandangan terhadap wartawan mengalami degradasi. Apalagi setelah keran reformasi dibuka lebar. Sebelumnya, wartawan dikatakan sebagai pejuang demokrasi, pejuang suara rakyat, opisisi pemerintahan, bahkan profesi wartawan termasuk profesi yang berbahaya. Karena berisiko mendapat represi dari pemerintahan.

Degradasi itu terlihat dari semakin banyaknya oknum yang memanfaatkan profesi wartawan. Dan sialnya masyarakatpun telah memberikan cap, wartawan bodrex. Profesi yang dikaitkan dengan nama merek obat sakit kepala ini, ditujukan kepada oknum wartawan yang bertindak tidak sesuai kode etik jurnalistik. Mereka juga diidentikkan dengan wartawan abal-abal, yang memanfaatkan profesi wartawan sebagai kedok untuk menuntut keuntungan.

Istilah-istilah ini, baru saya dengar ketika menjadi wartawan. Sungguh di luar ekspektasi saya saat masih aktif di organisasi pers mahasiswa. Mengerikannya lagi ketika saya mendengar kesaksian dari senior saya. Ada oknum wartawan yang menjebak salah seorang tokoh pemerintahan. Tokoh tersebut diundang ke sebuah hotel yang telah disediakan seorang perempuan di dalam kamarnya. Dengan tanpa sepengetahuan tokoh tersebut, mereka kemudian masuk secara paksa dan merekam tokoh dan perempuan tersebut. Dan akhirnya rekaman tersebut digunakan sebagai alat untuk memeras. Betapa kejamnya.

Semakin saya menekuni profesi saya itu, semakin banyak hal yang membuat saya resah. Karena ternyata tidak hanya wartawan abal-abal saja, wartawan profesional pun bisa dengan mudah memanfaatkan profesinya untuk mendapatkan keuntungan. Entah dalam rupa amplop, suap, atau bahkan meminta bayaran. Yang semakin membuat hati saya trenyuh, ada saja wartawan yang membuat skenario dalam pemberitaan. Tentu saja, hal-hal itu sangat tidak mencerminkan sebuah laku profesional. Sedangkan dalam substansinya seorang wartawan harus memenuhi sebuah tujuan. Benar seperti yang dikutip oleh kawan saya itu ketika mengutip Bill Kovach dan Tom Resenteil, bahwa dalam elemen jurnalisme, jurnalis harus memiliki keberpihakan terhadap rakyat.

Tidak bisa ditutupi, budaya amplop di dunia jurnalis begitu kental, dimanapun berada. Dari daerah sampai ibu kota. Terutama di dalam undangan peliputan instansi, baik pemerintahan maupun non pemerintahan. Amplop menurut mereka sebagai bentuk terima kasih karena wartawan telah ikut mempublikasikan agendanya. Padahal hal tersebut seharusnya diatur sendiri dalam kolom advertorial yang merupakan hubungan instansi to instansi, bukan instansi dengan wartawan. Hal-hal semacam ini jelas akan mengurangi profesionalitas para wartawan. Karena ketika seorang menerima amplop dari instansi, independensi mereka runtuh, mereka akan cenderung menggunakan sudut pandang instansi tersebut.

Hal-hal inilah yang membuat wajah dunia jurnalistik semakin tercoreng. Oknum-oknum yang memanfaatkan profesi wartawan begitu mudah bergerak bebas. Cukup dengan menunjukkan kartu pers, kemudian mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. Apalagi dengan bertebarannya portal berita di online. Kondisi ini menunjukkan bahwa pesatnya perkembangan teknologi tidak seimbang dengan pendidikan jurnalisme di masyarakat. Padahal kita telah memiliki undang-undang yang khusus mengatur tentang pers, UU No 40 tahun 1999. Di dalam UU inilah disebutkan tentang paradigma, hingga kode etik jurnalistik.

Tanpa pengetahuan yang baik dalam jurnalistik seseorang akan dengan mudah menerima apa saja bentuk informasi dari media. Belum lagi kebiasaan membaca yang buruk dan begitu mudahnya menyebarkan berita-berita yang entah benar apa salah. Minimnya pengetahuan jurnalistik ini juga terlihat jelas dengan semakin banyak media yang hanya mengejar rating, sensasi, dan bahkan hanya sebuah media propaganda dari kepentingan orang atau sekelompok orang. Lebih mengerikannya lagi media-media besar dan terkenal juga ikut arus itu. Sehingga “sedikit” melupakan apa yang memang benar-benar dibutuhkan oleh pembaca.

Seperti yang dikatakan kawan saya ini. Dia begitu geram dengan pemberitaan dari judul berita yang sensasional, Seorang Lelaki “Melahirkan” Janin Bayi. Di media lain dikatakan, Heboh, Seorang Pria di Grobogan “Melahirkan”. Terang saja berita ini langsung menarik perhatian banyak orang. Tidak akan ada orang yang tidak terkejut dengan kejadian yang berada di luar nalar ini.

Namun apa yang sebenarnya terjadi ternyata bukanlah seperti yang digambarkan dalam judul. Meskipun benar ada tanda petik yang memberikan perbedaan arti, tetap saja hal itu tidak mencermikan pekerjaan jurnalistik yang profesional. Alasannya adalah pemberian judul itu begitu sensasional hingga memunculkan opini yang menyudutkan korban. Dan hal ini sangat bertentangan dengan kode etik jurnalistik, bahwa wartawan tidak boleh mencampurkan fakta dan opini. Kedua, klarifikasi terhadap korban ternyata tidak ada. Padahal korban berhak untuk menolak pemberitaan, karena bisa membuat diskriminasi terhadap dirinya. Ketiga, timbul pertanyaan apakah berita itu dibutuhkan masyarakat atau tidak? Merupakan berita yang penting atau tidak? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang seharusnya menjadi dasar dalam pembuatan berita. Jika hanya menjual sensasi saja, tentu sangat disayangkan.

Sebuah media seharusnya juga memahami bagaimana fungsi jurnalisme. Bukankah seharusnya pers memberikan fungsi untuk memberikan informasi yang penting? Memberikan pendidikan kepada masyarakat? Menyuarakan hak-hak warga negara? Bukan malah memanfaatkan sebuah fenomena yang bakal menyudutkan orang yang seharusnya dibela hak-haknya.

Kerja-kerja jurnalistik harus dikedepankan sesuai dengan kode etik yang berlaku. Sebuah berita harus akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk. Klarifikasi dari berbagai sumber harus diutamakan. Tidak diskriminatif, termasuk kepada orang cacat, lemah, atau berpenyakit.

Saya heran dengan berbagai pihak yang menyerang tulisan kawan saya ini. Beberapa orang membela berita sensasional itu dengan alasan telah memberikan tanda petik pada kata “melahirkan”. Sedangkan saya memahami apa yang disampaikan kawan saya di dalam esaynya benar-benar substansif. Secara substansif dia memberikan berbagai alasan bagaimana berita tersebut tidak mencerminkan pekerjaan seorang jurnalis yang profesional.

Menurutnya judul berita itu bermasalah, karena melahirkan yang dimaksud tidak seperti pemahaman masyarakat pada umumnya. Di dalam pemberitaan itupun tidak ada pernyataan resmi dari pihak rumah sakit, klarifikasi dari korban, dan malah mengambil nara sumber yang tidak seharusnya memberikan keterangan. Tentu saja, berita semacam itu akan semakin menimbulkan desas-desus. Belum lagi ketika melihat korban yang masih pelajar. Menurut kawan saya ini, bakal memberikan peluang untuk membullynya. Otomatis akan berpengaruh terhadap kondisi psikologi korban. Tentu saja saya sangat sependapat dengan kawan saya ini. Seharusnya jurnalisme tidak diperlakukan seperti itu. Hingga dalam redaksi yang begitu keras kawan saya mengatakan, “Melacurkan” Jurnalisme di Purwodadi.

Saya tahu bahwa orang-orang yang meng-counter tulisan kawan saya ini adalah para wartawan aktif. Tentu mereka sangat memahami bagaimana sulitnya pekerjaan wartawan. Tuntutan berita setiap hari yang tidak cukup hanya dua, deadline tulisan, belum lagi tugas tambahan yang cenderung diutamakan, mencari iklan. Sangat sedikit sekali orang yang bisa bertahan sebagai jurnalis. Karena tugasnya yang berat tidak ditunjang oleh insentif. Gaji jurnalis layaknya buruh biasa, bukan insentif profesi yang selayaknya diberikan.

Selain itu, setiap jurnalis di berbagai tempat mempunyai organisasi profesi dengan budayanya masing-masing. Loyalitas antar jurnalis terbentuk dari kebersamaan saat di lapang. Loyalitas itu juga terbentuk dari kesamaan nasib sebagai seorang wartawan. Hingga menumbuhkan semangat patriotik dalam konteks tertentu. Tak ayal satu sama lain akan saling membela. Tentu saja hal itu merupakan hal yang wajar saja. Salam hormat saya untuk para pejuang suara rakyat!

Hanya saja, menurut saya jurnalisme adalah sebuah ilmu yang berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Seharusnya para awak media bisa memposisikan diri sesuai konteks situasi dan kondisi yang ada dengan berpegang pada kode etik jurnalistik. Sehingga bisa meminimalisir dampak terburuk yang akan terjadi dari hasil kerja jurnalistik kita, yaitu masyarakat.

Penulis : Dian Teguh
Mantan jurnalis
Powered by Blogger.