Teater Getar Tampilkan Suasana Jepang dalam Budaya Indonesia

Baca Juga

Pena Kampus- Pentas produksi ke-39 Teater Getar Salatiga diselenggarakan di Auditorium Universitas Muria Kudus, Kamis malam (28/12). Dengan mengangkat judul “Revenge” yang ditulis dan disutradarai oleh Eko Kodok, pementasan ini berhasil membius para penontonnya. Acara ini merupakan rangkaian tour 4 kota, diantaranya: Salatiga, Kudus, Magelang dan Jogja.
Adegan dalam Pementasan "Revenge" (28/12)
Foto oleh : Sabs
Dengan musik dan setting dekorasi panggung sedemikian rupa membawa penonton seakan masuk ke dunia samurai khas Jepang. “Setting panggung dan dekorasi keren banget, apalagi dengan latar belakang panggung yang bisa langsung diubah-ubah sesuai suasana,” tutur Huda salah satu penonton. “Kebawa ke suasana Jepang, pokonya keren banget lah,  musiknya juga,” tambahnya.

Eko Kodok mengatakan banyak pesan yang ingin disampaikan kepada penonton, mulai dari kebimbangan seseorang dalam mencari sosok yang ia jadikan panutan, mengenai harta karena ingin meperoleh kekayaan, tahta dimana terjadi perebutan kekuasaan dan wanita yang ternyata menjadi motif dan melatar belakanginya. Juga tentang kekeluargaan dan humanity.

“Masalah balas dendam, ingin merebut kembali kekuasaan, tapi disitu setiap adegannya ada hal lain yang dimunculkan tidak hanya untuk penggulingan pemerintahan, tapi ternyata disitu ada hal lain yang melatar belakangi. Jadi yang ingin saya sampaikan sebenarnya banyak sekali, tapi ketika melihat ending nya yaitu bahwasannya keluarga lebih penting dari segalanya,” terang Eko ketika ditemui redaksi Pena Kampus.

Kendati mengambil tema Jepang, namun pementasan ini tetap dibawa kedalam budaya Indonesia. “Karena kita hidup di Indonesia kemudian kita harus blending, memang benar kalau samurai gagal dalam menjalankan misi harus harakiri, harus bunuh diri, karena kalau ga membunuh ya dibunuh, tapi ketika kita terapkan di Indonesia apakah itu pas? Apakah itu cocok? Kan tidak,” kata Eko.

“Kita membuat tantangan, tak hanya tradisi Jawa atau tradisi Indonesia, tapi mengambil kemasan dari Jepang meskipun ga murni 100% Jepang,” terang Uzi selaku salah satu pemeran dalam pementasan. Uzi selaku pemeran Ronin mengungkapkan adanya tantangan dimana harus membawa suasana Jepang ke dalam budaya Indonesia. “Secara garis besar isinya tetap Indonesia, tepatnya Jawa, tapi kita mengambil kemasannya saja yang Jepang,” tambahnya. “Dalam pementasan ini kami ingin menampilkan bahwasannya kebenaran yang sejati itu milik individu masing-masing tinggal cara pandang kita itu bagaimana,” jelas Uzi. (Sabs/Del/Peka)
Powered by Blogger.