Mengangkat Derajat Wanita dengan Pementasan Drupadi dan Shinta

Baca Juga

Pena KampusForum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuK) kembali menggelar lawatan rutin sastra dan budaya. Dalam pagelarannya kali ini, FASBuK mengangkat cerita monolog “Drupadi” dan pementasan teaterikal “Shinta” yang dibawakan oleh teater Bledog.

Foto : TH / PEKA

Laila Alfiyah selaku sutradara pementasan menjelaskan, kedua lakon tersebut dipilih untuk mengangkat derajat perempuan. “Wanita bukan hanya menjadi komoditas bagi kaum laki-laki. Drupadi adalah simbol kekuatan seorang wanita. Sebenarnya antara Shinta dan Drupadi adalah tokoh yang berbeda. Shinta adalah cerita pewayangan Ramayana dan Drupadi dari kisah Mahabarata, mereka menjadi simbol wanita, bahwa wanita bisa jadi apa yang kita mau,” ungkapnya saat ditemui redaksi Pena Kampus, Senin (29/01) di auditorium UMK.

Laila menuturkan, beberapa tokoh pria dalam pentas yang disutradarainya itu juga bisa diperankan oleh wanita. “Pada Teater ini Stikes membuktikan bahwa banyaknya perempuan dan minimnya laki-laki itu, wanita juga bisa jadi laki-laki. Seperti tokoh Indrajit yang diperankan oleh wanita tapi dia bisa memerankan anak dari Rahwana yaitu Indrajit sosok raksasa dan itu membuktikan bahwa wanita itu kuat meskipun kodratnya dia wanita,” jelasnya.

Pementasan lakon Drupadi dan Shinta diharapkan dapat membawa pesan bahwa kaum wanita juga harus berfikir secara sehat, tangguh, kuat dan kreatif. “Jangan takut untuk berproses, wanita harus tangguh walaupun perawat kita juga bisa berseni, walaupun itu pahit dan manis jangan takut berproses.” Pungkas Laila. (Adel/magang/TH)
Powered by Blogger.