Jagong Gusjigang Cerminkan Keberagaman Nusantara

Baca Juga


Pena Kampus- Njagong Gusjigang dalam rangka merayakan hari jadi Masjid al-Aqsa dihadiri dari berbagai macam lapisan masyarakat dan berbagai agama, Kamis (5/4) di gedung Yayasan Masjid Menara Makam Sunan Kudus (YM3SK).
Grup gamelan asal Yogyakarta melantunkan shalawat emprak dalam acara Jagong Gusjigang,  Kamis (5/4)  di gedung  (YM3SK). Acara tersebut merupakan salah satu dari rangkaian acara peringatan hari jadi Masjid al-Aqsa. Foto oleh: TH / PEKA

“Yang menemani njagong (berbincang santai) ada kiai, warga muslim, warga non muslim, pengusaha, ada juga yang dalang,” kata Abdul Jalil selaku pembawa acara.

Sebelum acara tersebut dimulai, sejak jauh-jauh hari tamu undangan yang telah mendaftar diminta untuk mengenakan busana seperti kudus tempo dulu: Sarung batik, baju putih dan ikat kepala. Penggunaan busana Kudus tempo dulu itu dimaksudkan untuk mencerminkan peristiwa 500 tahun lalu, dimana masjid al-Aqsa adalah simbol yang menyatukan semua golongan masyarakat Kudus.

“Menara Kudus bodinya mirip candi Hindu, atapnya muslim, pancurannya Hindu, itu satu-satunya di dunia. Kalau disini tidak, kalo yang Muslim tetap Muslim, yang Hindu tetap Hindu yang terpenting rukun. Apa yang menyatukan? Yang menyatukan adalah Gusjigang: bagus akhlaknya, Pinter ngaji dan tidak merendahkan diri dengan meminta-minta tapi berdagang,” ungkap Abdul Jalil.

Acara tersebut diawali dengan pembacaan prasasti Menara oleh Kiai Saifuddin Lutfi atau yang kerap disapa Mbah Ipud. Mbah Ipud menuturkan, Masjid Al-Aqsa didirikan pada tanggal 19 Rajab 956 H.

“Masjid Al-Aqsa dan kota Kudus dibangun oleh Sunan Kudus, Syekh Ja’far Shodiq. Di dalam prasti itu tertulis: telah dibangun Masjid al-Aqsa dan kota Kudus tanggal 19 Rajab 956 H,” ungkap Mbah Ipud.

Mbah Ipud menambahkan, masyarakat kerap menyebut Masjid al-Aqsa dengan masjid Menara.

“Banyak yang tidak tahu nama Masjid al-Aqsa. Pada tahun 1401 H, KH. Turaichan Adjuhri memunculkan kembali nama masjid al-Aqsa. Walaupun begitu, nama Masjid Menara tidak bisa hilang,” ungkap Mbah Ipud.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Thomas Budi Shantoso (Pemilik PT. Djarum) yang berjudul Bermula dari Al-Quds karya Mukti Sutarman (penyair Kudus). Kemudian disusul oleh sosiawan Leak (penyair Nasional) yang mementaskan puisi Gujigang.

Berbeda dengan Thomas dan Leak yang berpuisi, Gus Mus tampil dengan membawakan cerpennya yang berjudul Gus Jakfar. Sebelum membacakan cerpen, Gus Mus mengomentari penampilan Sosiawan Leak.

“Leak seperti penyair zaman Jahiliyah,” kata Gus Mus yang kemudian disambut tawa oleh hadirin.

Acara yang dihadiri sekitar 450 undangan tersebut ditutup dengan shalawat Emprak yang diiringi grup gamelan dari Jogjakarta. (TH/AU)

Powered by Blogger.