Tekad Pahlawan yang Semakin Pudar

Baca Juga


Tonggak persatuan bangsa sudah dimulai sejak jauh sebelum Indonesia merdeka. Salah satunya, dengan berdirinya organisasi Budi Utomo yang diprakarsai oleh Dr Wahidin Sudiro Husodo tahun 1908. Dengan didirikannya organisasi nasionalis, rasa persatuan yang tidak pernah ada menjadi sesuatu yang diharapkan dapat diperjuangkan bersama-sama. Sudah tidak lagi memikirkan kepentingan golongan, ras, suku, serta perbedaan kepercayaan, demi tercapainya kesatuan dan persatuan bangsa.
(jidunk)
Tekad kuat para pahlawan mengesampingkan perbedaan demi sebuah persatuan adalah tekad kuat dan penuh pengorbanan. Meskipun begitu, pada masa-masa damai tanpa penjajahan sekarang ini tekad kuat itu semakin memudar. Sensitivitas masyarakat meningkat bila dikaitkan dengan unsur SARA, aksi teror, penganiayaan, dan lain sebagainya. Generasi sekarang hampir tidak mewarisi tekad memperjuangkan persatuan, justru memperjuangkan keadilan yang menurut diri sendiri terasa benar.

Peristiwa yang terus terjadi seolah menjadi umpan pancing yang menunggu untuk disambar. Menggerus rasa persatuan yang tertanam di diri kita, menjadikan kita alat untuk saling serang dan merugikan. Padahal sedari dulu kita tahu, kita majemuk, kita beraneka ragam, kita berbeda, namun tetap satu jua. Berbeda bukan untuk terpisah. Mari kembalikan lagi tekad persatuan yang semakin memudar. Salah satunya, dengan tidak mudahnya percaya terhadap pemberitaan tanpa digali sumbernya. Banyak berita bersifat hoax merajai media. Jika kita tidak selektif dapat menjadi suatu ancaman dalam persatuan. Bagaimanapun kita adalah Bhineka Tunggal Ika. Berbeda tetap satu Jua. (Lev/Del/Peka Online)

Powered by Blogger.